Wednesday, October 12, 2011

(Katanya) Pahlawan Tanpa Tanda Jasa


Indonesia memang paling jago kalo disuruh nyari plesetan dari suatu ironi. Sebagai preambule tulisan ini, ambil contoh pahlawan tanpa tanda jasa yang dianggap gelar berderajat untuk jasa dan pengabdian para guru. Namun pada kenyataannya, para guru di Indonesia menjadi bulan-bulanan, maaf, perkosaan intelektual dan eksploitasi pengabdian. Tidak ada kenyaman dalam mengajar karena gedung yang hampir roboh ataupun keamanan financial gaji yang dirapel per 3 bulan. Di saat pemerintah dan antek-anteknya mendengungkan keadilan dan peninggian harkat dan martabat guru dalam bentuk penghargaan untuk segelintir orang, atau pembangunan sekolah Inpres yang umurnya tidak sampai setahun untuk kemudian rusak lagi. Di berbagai daerah di Indonesia, para guru dipaksa mengajar dengan ganjaran pengabdian pada bangsa dan Negara dengan fasilitas seadanya, murid yang terhambat akses untuk ke sekolah, atau jutaan rintangan lain untuk, katanya, mencerdaskan kehidupan bangsa. Perubahan sistem pendidikan, sistem ujian dan kelulusan, ataupun ratusan kebijakan lain yang notabene tidak berdampak secara signifikan terhadap kualitas pendidikan di negeri ini, pun menjadi jalang dari pemandangan khas dari kenyataan yang harus dihadapi generasi para penerus bangsa yang sedang menuju titik nadir jurang kehancuran bangsa.

Katanya (lagi) Pahlawan Devisa

Sekarang mari kita beralih kepada julukan bersahaja para Pembantu Rumah Tangga kita, yang punya gelar pahlawan devisa. Sepintas memang tampak keren, sebelum lagi-lagi kita dipaksa untuk berakrab ria dengan kontradiksi dari realita yang ada. Memang banyak Tenaga Kerja Indonesia (TKI), yang kebanyakkan berprofesi sebagai pembantu rumah tangga, yang bisa dibilang sukses bekerja di luar negeri. Prestasi ini tentu saja membuka mata rekan-rekan seperjuangan pencari kerja untuk mencari peluang kerja di luar negeri. Ironisnya, tak sedikit TKI yang harus mendapat pilihan; gaji tak dibayar karena dianggap tidak becus kerja atau mati tersia-sia bukan di negeri sendiri. Bahkan ketika tiba di tanah kelahiran, nestapa itu tak usai jua. Jika di Filipina pahlawan devisa ini mendapat lobi terbaik di bandara, beralas karpet merah, dengan segudang fasilitas dan penghargaan yang tinggi, sebagai ungkapan terima kasih tiada terhingga bagi salah satu pihak penyumbang devisa terbesar bagi perekonomian Negara, maka di Indonesia lain lagi ceritanya. Begitu menginjakkan kaki di bandara, para TKI sudah dihadang calo dan pungli yang seolah tak henti. Belum lagi kebijakkan baru pemerintah lewat Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI), yang lagi-lagi tampak keren namanya, yang mewajibkan TKI yang baru tiba dari luar negeri untuk diantar ke daera-daeah masing-masing dengan tambahan biaya Rp. 690.000, setelah sebelumnya di negeri orang dikutip Rp. 400.000 untuk transportasi di Indonesia. Pasalnya, para TKI tidak bisa keluar dari terminal TKI bila tidak menggunakan bus agen perjalanan BNP2TKI. Semua itu dilakukan dengan alasan agar para TKI tidak lagi dihadang calo. Menurut hemat penulis, mbok ya mikir, masa iya dengan alasan itu TKI tidak boleh ikut jemputan saudara-saudaranya yang sudah datang jauh-jauh ke bandara, malah kudu musti wajib bayar tambahan ongkos untuk ikut kendaraan BNP2TKI. Mending kalo beres, kalo ternyata TKI yang tiba keder liat Jakarta, terus lupa kampung halaman, seperti banyak yang terjadi, apa ga pusing pak sopir harus keder muter-muter nyari rumah yang pemiliknya aja lupa dimana?

Kenapa juga ga solusinya; calonya aja yang diberangus; pelatihan yang intensif untuk TKI mulai dari kemampuan berbahasa hingga pelayanan sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan; kebijakan yang aktif untuk memberikan dan menuntut perlindungan terhadap tempat kerja sang TKI; peraturan yang ketat terhadap para penyalur; peraturan dan izin yang sesuai dengan koridor hukum yang melindungi eksistensi TKI; dan kebijakan lain yang efektif dalam mereduksi terjadinya neraka dunia untuk para TKI. Agar tidak ada lagi cerita pilu kehilangan, ketidakadilan, penindasan, tekanan, atau bahkan kematian yang melulu santer terdengar di telinga. Karena TKI adalah pekerjaan mulia, bukan pekerjaan durjana yang keleleran menindas rakyatnya. Memang, cara memutus lingkaran setan ini tidak semudah membalik telapak tangan. Dibutuhkan kerja keras dan sikap legowo berbagai pihak untuk bekerja sama dalam menanggulangi musibah yang selalu mencoreng nama baik bangsa. Ingat, mereka manusia, bukan setengah makhluk setengah hamba.

Bagi para perempuan di era sekarang ini tentu akan berpikir dua kali untuk menjalin hubungan laki-laki dan perempuan, apapun itu namanya, jika hanya bermodal cinta. Kata-kata yang sering terucap adalah, emang lo pikir gue kenyang makan cinta? Tanpa bermaksud beragumentasi lebih jauh dengan ungkapan tersebut, penulis hanya mencari benang merah dari pelbagai kondisi yang termaknai serupa tapi tak sama. Realistis saja, agama manapun tidak melarang umatnya untuk mencari rizki yang telah dianugrahkan. Ambil contoh agama Islam, salah satunya seperti tersurat dalam Al Qur’an, “Apabila shalat telah dilaksanakan, bertebaranlah kamu di muka bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung” (QS 62:10). Makna dari penciptaan manusia adalah agar kita, makhluk vertebrata dengan tambahan akal budi serta nikmat lain dari Tuhan, untuk beribadah kepada-Nya. Kesimpulannya, manusia memang dicitakan dengan salah satu tujuannya untuk beribadah kepada-Nya, namun manusia butuh makan dan kenyamanan lain agar dapat menikmati ibadah, untuk itu manusia secara harfiah memang harus mencari rizki agar dapat memenuhi kebutuhan fungsi ‘kemanusiaannya’ agar dapat memenuhi kewajiban dan hak beribadah dengan maksimal kepada pencipta-Nya. Lalu apa guna manusia jika sudah begitu merasa jumawa dengan menjadi penghambat sesama kawan manusia dengan menghalalkan berbagai cara.

Entah esok entah lusa entah kapan, mungkin akan banyak bermunculan gelar megah lain yang terselubung nestapa. Mengutip puisi Agus R. Sardjono, kemana pergi lumpur yang hina jika bukan keasalnya. Lha ya kita ini lumpurnya, yang lebih masyuk dengan kepentingan pribadi ketimbang peduli dengan nasib sesama. Yang pada akhirnya akan ditutup dengan, All you have to do just accept it and move on. The question is where we should have to move? Dawn to beyond or drown beneath... Anyway, if it just feels the same, then maybe we’ve already lost our faith to be a truly human being.



Chicken Pox Mengintai Tak Kenal Usia

gimana rasanya kalo udah seudzur ini dimana belum pernah kena cacar daaannn lo kena cacar saat berencana akan menikah. Gosh..its like a disaster (lebay mode on). ehehehehehe,,

Pada hari Minggu tanggal 2 Oktober 2011 saya sekeluarga pergi k Bandung dalam rangka menghadiri pernikahan sepupu jauh saya. Saat itu kepala saya udah pening luar biasa, ditambah lagi dengan k Bandung dengan mengendarai mobil keluarga di akhir pekan, bayangin aja padatnya tuh tol kaya apah. selama tiga jam perjalanan sampailah kita di Bandung, booo...udah lama saya ga nginjakin kaki di kota kembang ini ternyata macetnya sebelas dua belas ya sama Jakarta. cih. setelah kondangan kami beristirahat sejenak di salah satu pom bensin dimana disana saya membeli dan menegak panad*ol karena selain pusing ternyata badan juga meriang gembira ga keruan. selama perjalanan pulang saya cuma sanggup tiduran di jok belakang mobil.

setelah berkeliling kota Bandung (baca: tersesat, heran ya nih jalanan pada muter2 ga jelas ditambah macet gila2an) malamnya kami tiba di rumah, saat mandi ada sekitar satu bintil berisi air bertengger manis di dada gw. weeeeewww,,,,saya pikir, "ko gw jorok aja yak,,,masa ada kutu aer di dada". trus pas tanya tante katanya bukan apa2. okelah,,,malam itu saya tidur pules plus nenggak lagi panad*l krn meriangnya makin menjadi2.

Pagi pun menampakkan sinarnya perlahan2 dengan malu2,, suasana sejuk di pinggiran Jakarta bikin saya makin malas bangun plus pening tiada terkira. pas mandi pagi, lho,,, ko tuh bintil beranak pinak di sekitar dada yak,.,yasuw lah ya saya pikir kringet buntek aja kali. Di kantor kesibukkan yg kaya gada belas kasian pun menyerbu, saya diajak meeting diluar segala bahkan. Namanya juga hari Senin ya,,,Jakarta gila2an macetnya ga karuan. sebagai orang yg bekerja di industri jalan tol macet bgini bener2 bikin keki lahir batin! selain meriang disko, ternyata badan entah dari mana asalnya muncul bruntul2 lagi terutama di dada. DUh,,, saya udah mulai curiga nih saya kena cacar air. langsunglah search di mbah google. menurut wikipidea, gejala cacar air itu ;

"Pada permulaannya, penderita akan merasa sedikit demam, pilek, cepat merasa lelah, lesu, dan lemah. Gejala-gejala ini khas untuk infeksi virus. Pada kasus yang lebih berat, bisa didapatkan nyeri sendi, sakit kepala dan pusing. Beberapa hari kemudian timbullah kemerahan pada kulit yang berukuran kecil yang pertama kali ditemukan di sekitar dada dan perut atau punggung lalu diikuti timbul di anggota gerak dan wajah.

Kemerahan pada kulit ini lalu berubah menjadi lenting berisi cairan dengan dinding tipis. Ruam kulit ini mungkin terasa agak nyeri atau gatal sehingga dapat tergaruk tak sengaja. Jika lenting ini dibiarkan maka akan segera mengering membentuk keropeng (krusta) yang nantinya akan terlepas dan meninggalkan bercak di kulit yang lebih gelap (hiperpigmentasi). Bercak ini lama-kelamaan akan pudar sehingga beberapa waktu kemudian tidak akan meninggalkan bekas lagi.

Lain halnya jika lenting cacar air tersebut dipecahkan. Krusta akan segera terbentuk lebih dalam sehingga akan mengering lebih lama. kondisi ini memudahkan infeksi bakteri terjadi pada bekas luka garukan tadi. setelah mengering bekas cacar air tadi akan menghilangkan bekas yang dalam. Terlebih lagi jika penderita adalah dewasa atau dewasa muda, bekas cacar air akan lebih sulit menghilang"

Nah,,,ciri2 udah terpenuhi nih, tapi kata temen saya c ini cuma kringet buntek aja kali. meeting di salah satu bank pun itu tidak bisa mendapatkan konsetrasi saya sepenuhnya, karena ko badan gatel dan pusingnya itu lho ga nahan. Badan lemes, meriang pula. lengkap. setiba di kantor temen2 langsung nyurh k dokter karena melihat bruntul2 itu udah mengarah ke muka. di klinik kantor itu saya panik luar biasa di ruang tunggu, rasanya sedih banget sendiri begitu. dari kecil saya paling takut kena cacar :'( daaann saat dokter melihat bruntul dan mendengarkan keluh kesah saya, terdiagnosalah cacar air dengan manisnya. langsunglah saya balik k ruangan beresin kerjaan dan langsung pulang saking syoknya.

hari pertama tgl 3 Oktober sampe tanggal 5 Oktober merupaka neraka dunia buat saya, pusing, demam tinggi, lemes letih lesu, gatel2, membuat hari2 terasa jutaan kali lebih berat. rasanya pengen ngutuk orang2 yg bilang cacar itu penyakit ringan. cuih. saya justru heran ko bisa2nya saya ga drawat di RS. oia, satu lagi. kalo ada yg bilang orang yg cacar ga boleh mandi dan harusnya bedakan aja menurut saya sih kurang tepat. mandi justru bisa menghilangkan bakteri yg nempel di tubuh kita. HARUS MANDI! mandilah dua kali sehari dengan air hangat yg dicampur dettol. bisa juga pake betadine sih, cuma rada geli ga sih kalo mandi pake aer warna merah.... berikut saduran dari wikipedia;

"Selama 5 hari setelah ruam mulai muncul dan sampai semua lepuh telah berkeropeng. Selama masa karantina sebaiknya penderita tetap mandi seperti biasa, karena kuman yang berada pada kulit akan dapat menginfeksi kulit yang sedang terkena cacar air. Untuk menghindari timbulnya bekas luka yang sulit hilang sebaiknya menghindari pecahnya lenting cacar air. Ketika mengeringkan tubuh sesudah mandi sebaiknya tidak menggosoknya dengan handuk terlalu keras. Untuk menghindari gatal, sebaiknya diberikan bedak talk yang mengandung menthol sehingga mengurangi gesekan yang terjadi pada kulit sehingga kulit tidak banyak teriritasi. Untuk yang memiliki kulit sensitif dapat juga menggunakan bedak talk salycil yang tidak mengandung mentol. Pastikan anda juga selalu mengonsumsi makanan bergizi untuk mempercepat proses penyembuhan penyakit itu sendiri. Konsumsi buah- buahan yang mengandung vitamin C seperti jambu biji dan tomat merah yang dapat dibuat juice."


trus resep jitu lain agar bruntul2nya bersih adalah dengan menggunakan sabun sulfur. kalo saya berdasarkan pengalaman, Deo Sulfur yg transparan adalah merk yg paling oke. yah..ada harga ada rupa sih, deo sulfur di harga 8.200 (2011) dan JF Sulfur 6.450 (2011). Resep lainnya adalah saya menggunakan masker jagung yg dicampur minyak zaitun. ada yg bilang campus santan dari kelapa asli, tapi saya prefer zaitun krn memberikan efek "menghaluskan kulit". sorenya di bekas cacar itu saya menggunakan salep Acyclovir untuk bintil2 yg belum pecah dan salep garamycin utk yg sudah pecah. Di muka saya menambahkan salep mata Gentacimin. untuk obat yg diminum, karena dokter kasi acyclovir tablet nya cuma 400mg untuk 4 kali minum, saya nambain dosis sendiri jadi 5 kali minum karena orang dewasa harusnya minum yg 800 mg 4 kali minum. trus obat lain, lexahist utk ngilangin gatel, biogesic utk ngilangin demam, sama yg ga kalah penting vitamin triboost atau booster yaitu vitamin C utk daya tahan tubuh. saya juga nambain suplemen vitamin E utk regenarasi kulit, yg bagus yg dari Amway yaitu wheat germ E dan Lecitin E. utk tradisionalnya saya minum kelapa ijo, jadilah kaya bumil alias ibu hamil tiap hari nenggak kelapa ijo. hehehehehehehe..

ada paham lain juga yg bilang jangan mandi, nah,,,itu pake bedak trus tuh jadinya, cuma ko ya 2 minggu cacar ga mandi ya gimana juga yak,,,jorki sih mnurut saya. bedak yg saya rekomen sih standar aja ya salycil atau caladine. cuma enakan caladine sih menurut saya, wangi dan ga berantakan wadahnya.

mengutip lagi dari wikipidia nih;

"Setelah masa penyembuhan varicella, dapat dilanjutkan dengan perawatan bekas luka yang ditimbulkan dengan banyak mengonsumsi air mineral untuk menetralisir ginjal setelah mengonsumsi obat. Konsumsi vitamin C plasebo ataupun yang langsung dari buah-buahan segar seperti juice jambu biji, juice tomat dan anggur. Vitamin E untuk kelembaban kulit bisa didapat dari plasebo, minuman dari lidah buaya, ataupun rumput laut. Penggunaan lotion yang mengandung pelembab ekstra saat luka sudah benar- benar sembuh diperlukan untuk menghindari iritasi lebih lanjut."

trus menurut prof. Hembing ; Mengatasi Cacar Air Secara Alamiah
Hembing Tue, 20 Jul 2004 15:01:00 WIB

Oleh : Prof. H.M. Hembing Wijayakusuma

Hampir setiap orang pernah mengalami cacar air. Penyakit ini memang tidak pandang bulu, sebab dapat menyerang semua ras, segala umur, laki-laki atau perempuan, baik di daerah perkotaan maupun di pedesaan. Orang kulit putih, hitam dan coklat dapat terkena. Anak-anak, remaja, orang dewasa, semuanya dapat terkena cacar air. Namun, pada umumnya penyakit ini lebih banyak menyerang anak-anak usia 2-8 tahun. Cacar air bawaan (kongenital) dapat terjadi pada bayi dalam kandungan ibu yang terserang cacar air. Infeksi cacar air pada bayi yang baru lahir dari seorang ibu yang sehat, jarang terjadi.

Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus herpes varicella-zoster dan merupakan penyakit menular. Penularannya dapat melalui kontak langsung dan kontak tidak langsung. Kontak langsung dapat terjadi melalui cairan pernafasan dan kontak langsung dengan kulit penderita. Ruam pada kulit yang mulai merekah dan pecah sangat menular. Kontak tidak langsung terjadi melalui udara. Menghirup udara yang mengandung kuman virus herpes varicella-zoster dapat menyebabkan seseorang terserang cacar air.

Cacar air dapat membahayakan dan menimbulkan kematian pada penderita kanker dan orang yang mengalami defisiensi sistem imun (penurunan fungsi sistem imunitas/kekebalan tubuh). Turunnya fungsi sistem imunitas tubuh tersebut menyebabkan tubuh tidak mempunyai kekebalan dan sistem ketahanan untuk melawan serangan virus penyebab cacar, sehingga kondisi penderita melemah yang pada akhirnya dapat mengakibatkan sesuatu yang fatal. Pada anak yang diberi beberapa jenis obat yang berefek pada menurunnya sistem imunitas tubuh, cacar dapat menyebabkan kematian, sebab tubuh tidak mempunyai sistem pertahanan untuk menghancurkan virus penyebab cacar. Penyakit ini juga membahayakan seorang ibu dan bayi yang dikandungnya.

Gejala-gejala cacar air adalah:

  • Munculnya ruam-ruam di kulit
    Cacar air ditandai dengan bintik-bintik merah berupa gelembung berisi gelembung cairan bening yang muncul setelah 24 jam terinfeksi virus herpes varicella-zoster. Bintik-bintik merah yang muncul di kulit penderita disebut dengan ruam. Ruam tersebut biasanya menimbulkan rasa gatal. Bekas ruam yang ditimbulkan itu pada umumnya akan hilang, tetapi ruam yang terkena infeksi dan merusak lapisan kulit biasanya membekas di kulit. Ruam yang terinfeksi akan bernanah. Lalu akan timbul lepuh kemerahan di punggung dan kepala, yang mudah pecah. Pecahnya ruam, menyebabkan cairan keluar dan terbentuklah keropeng. Ruam menyebar ke muka dan jarang ke tungkai dan lengan. Lepuh akan berlanjut 3-4 hari.
    Kadang-kadang dijumpai ulkus (luka) pada membran mukosa mulut, alat genital dan mata. Gatalnya ruam menyebabkan penderita menggaruknya yang menyebabkan infeksi, keropeng dan menimbulkan infeksi baru.
  • Demam, kepala terasa agak sakit dan tidak enak badan
  • Suhu badan meningkat
  • Nafsu makan menghilang
  • Dalam kondisi parah, ruam-ruam dapat muncul di wajah dan anggota gerak, tangan, lengan, kaki dan lain-lain.

Tips untuk mencegah cacar air, antara lain:

  • Menjaga kebersihan badan, pakaian dan lingkungan.
    Pakaian dan lingkungan kotor merupakan sumber dari penyakit. Badan yang kotor akan mudah terinfeksi oleh kuman penyakit.
  • Mengkonsumsi makanan bergizi
    Makanan bergizi membuat tubuh sehat dan berstamina kuat sehingga dapat menangkal serangan infeksi kuman penyakit
  • Menghindari sumber penularan penyakit cacar air
  • Imunisasi vaksin cacar air

Perawatan terhadap penderita cacar air:

  • Mengganti baju penderita setiap hari
  • Menaburkan bedak antigatal pada bagian tubuh yang terkena cacar air untuk mengurangi rasa gatal dan agar ruam menjadi lebih cepat kering.
  • Memisahkan penderita dengan orang yang sehat agar cacar air tidak menular pada yang lain.
  • Mandi dengan menggunakan air hangat yang telah dicampur dengan obat antigatal setiap hari.
  • Memotong kuku agar tidak menggaruk ruam-ruam pada kulit, sehingga tidak timbul infeksi baru.
  • Memberikan kondisi nyaman pada penderita agar dapat beristirahat dengan nyaman dan mempercepat proses kesembuhan

Kombinasi beberapa tanaman berkhasiat obat dapat diramu menjadi obat tradisional yang dapat mengatasi cacar air. Berikut ini adalah ramuan obat tradisional yang dapat digunakan untuk mengatasi cacar air:

Pemakaian dalam :
Resep 1 :
30 gram temu lawak + 25 gram kencur + 15 gram asam jawa + 15 gram jahe, dicuci dan dipotong-potong, lalu direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, disaring, airnya diminum 2-3 kali sehari.

Resep 2 :
2 buah mengkudu matang dicuci dan dijus, atau diparut dan diambil airnya, lalu diminum. Lakukan 2-3 kali sehari.

Pemakaian luar :
Resep 1 :
Kunyit + daging buah asam (asam kawak) masing-masing secukupnya ditumbuk halus, tambahkan minyak kelapa secukupnya, dipanaskan sebentar, setelah dingin dioleskan pada bagian kulit yang terkena cacar air.

Resep 2 :
Daun asam dan kunyit masing-masing secukupnya dicuci dan dihaluskan, lalu dipakai untuk mengoles kulit yang gatal karena cacar air.

Catatan : untuk perebusan gunakan periuk tanah atau panci enamel atau panci kaca.


Menurut saya, cacar air adalah salah satu pengalaman yg cukup berkesan dan berbekas (dalam artian sebenarnya) untuk saya. hari Kamis tanggal 6 Oktober (hari keempat atau kelima cacar) baru saya bisa bangun tidur dengan kepala agak lega. biasanya c ktika luka cacarnya ada yg erupsi bruntul yg lain udah ga numbuh atau bahkan batal tumbuh. cuma yg bakal tumbuh itu yg jadi item2. kalo yg lain c jadi kaya luka trus luruh gitu. tadi pagi (Rabu 12 Oktober 2011), saya (nekat) berangkat ke kantor, eeeehhh,, malah diusir suruh pulang karena garuk2 terus. eheheheee,,karena eh karena, rupa2nya pas mw sembuh itulah masa inkubasi nularin orang menghebat. masa inkubasi sendiri sekitar 7 sampai 21 hari dari kontaminasi dengan virus Varicella Zoosternya. buat para penderita cacar air, semangat ya...semoga pengalaman saya memberi sedikit manfaat untuk teman2. buat yg belum kena, well,, mudah2an kalian ga kena, tapi kalo kena ya enjoy aja kaya saya. Cheers!

Wednesday, September 7, 2011

Apakah Darah Keruh termasuk Darah Haid?

waktu Ramadhan saya sering iseng bertanya sama teman2, berapa utang puasa mereka. Rata2 menjawab sektiar 5-7 hari. naaahhh,,,tiba2 ada temen yg jawab enteng, "eh gw cuma 4 hari lho.." sontaklah saya terkejut, kenapa bisa bgitu sob? rupanya jawabannya enteng aja, karena menurut pemahaman dia, darah keruh (yg berwarna agak kecoklatan) itu bukan darah haid, nah lhooo....

Pikir punya pikir berhari2 saya cari jawabannya, memang ada salah satu hadist yang menyebutkan kalo darah keruh itu utk org yg biasa haid itu bukan termasuk darah haid, tapi buat saya sepertinya hadits tersebut kurang shahih ya (hehehe,,ga bermaksud sotoy lhoo....). selain cari literatur saya juga banyak bertanya pada banyak orang. abis rata2 temen2 saya termasuk saya kadang suka ragu apakah darah keruh itu masih "dapet" atau engga". akhirnya seorang teman saya menyodorkan Buku Fiqh Sunnah. Berikut petikan dari buku tersebut tentang darah keruh

"Darah keruh

Yaitu berwarna antara putih dengan hitam seperti air yg kotor. Berdasarkan Hadits Alqamah bin Abu Alqamah dari ibinya, Marjanah, yang dulunya seorang hamba sahaya lantas dibebaskan oleh Aisyah RA. Ia berkata bahwa beberapa wanita mengirimkan suatu wadah yang didalamnya terdapat kapas yang berwarna kekuningan bekas terkena darah haid. Lalu mereka bertanya tentang kewajiban shalat, lalu Aisya menjawab, “Jangan tergesa-gesa (mengerjakan shalat) sampai kalian melihat warna kapas itu putih”. HR Malik dan Muhammad Al-Hasan. Bukhari menyatahan bahwa hadits ini mu’allaq.

Warna kekuningan atau keruh bisa menjadi bahan pertimbangan jika masih berada pada masa haid. Jika darah keluar di luar masa haid, maka darah yang keluar bukan termasuk darah haid. Hal ini berdasarkan pada hadits Ummu ‘Athiyyah ra. Yang berkata, “Kami tidak menganggap darah yang berwarna kekuningan atau keruh sebagai darah haid setelah bersuci:. HR Abu Daud dan Bukhari. Namun beliatu tidak menyebutkan kalimat “……………..setelah bersuci".

nahhhh,,,dari cuplikan buku diatas, saya mengambil kesimpulan bahwa jika kita masih keluar warna keruh kecoklatan setelah haid, maka itu masih termasuk haid. jadi jangan terlalu buru2 mw sholat atau puasa aja misalnya biar ganti puasa Ramadhan-nya dikit. Toh ganti sehari lebih lama kan gada ruginya,,,malah lebih berpahala krn jadi banyak puasanya, plus langsingin badan. hehehehe,,,,

Akhirul kalam, semoga kita termasuk ke dalam golongan orang2 yg berilmu :)