Wednesday, October 12, 2011

(Katanya) Pahlawan Tanpa Tanda Jasa


Indonesia memang paling jago kalo disuruh nyari plesetan dari suatu ironi. Sebagai preambule tulisan ini, ambil contoh pahlawan tanpa tanda jasa yang dianggap gelar berderajat untuk jasa dan pengabdian para guru. Namun pada kenyataannya, para guru di Indonesia menjadi bulan-bulanan, maaf, perkosaan intelektual dan eksploitasi pengabdian. Tidak ada kenyaman dalam mengajar karena gedung yang hampir roboh ataupun keamanan financial gaji yang dirapel per 3 bulan. Di saat pemerintah dan antek-anteknya mendengungkan keadilan dan peninggian harkat dan martabat guru dalam bentuk penghargaan untuk segelintir orang, atau pembangunan sekolah Inpres yang umurnya tidak sampai setahun untuk kemudian rusak lagi. Di berbagai daerah di Indonesia, para guru dipaksa mengajar dengan ganjaran pengabdian pada bangsa dan Negara dengan fasilitas seadanya, murid yang terhambat akses untuk ke sekolah, atau jutaan rintangan lain untuk, katanya, mencerdaskan kehidupan bangsa. Perubahan sistem pendidikan, sistem ujian dan kelulusan, ataupun ratusan kebijakan lain yang notabene tidak berdampak secara signifikan terhadap kualitas pendidikan di negeri ini, pun menjadi jalang dari pemandangan khas dari kenyataan yang harus dihadapi generasi para penerus bangsa yang sedang menuju titik nadir jurang kehancuran bangsa.

Katanya (lagi) Pahlawan Devisa

Sekarang mari kita beralih kepada julukan bersahaja para Pembantu Rumah Tangga kita, yang punya gelar pahlawan devisa. Sepintas memang tampak keren, sebelum lagi-lagi kita dipaksa untuk berakrab ria dengan kontradiksi dari realita yang ada. Memang banyak Tenaga Kerja Indonesia (TKI), yang kebanyakkan berprofesi sebagai pembantu rumah tangga, yang bisa dibilang sukses bekerja di luar negeri. Prestasi ini tentu saja membuka mata rekan-rekan seperjuangan pencari kerja untuk mencari peluang kerja di luar negeri. Ironisnya, tak sedikit TKI yang harus mendapat pilihan; gaji tak dibayar karena dianggap tidak becus kerja atau mati tersia-sia bukan di negeri sendiri. Bahkan ketika tiba di tanah kelahiran, nestapa itu tak usai jua. Jika di Filipina pahlawan devisa ini mendapat lobi terbaik di bandara, beralas karpet merah, dengan segudang fasilitas dan penghargaan yang tinggi, sebagai ungkapan terima kasih tiada terhingga bagi salah satu pihak penyumbang devisa terbesar bagi perekonomian Negara, maka di Indonesia lain lagi ceritanya. Begitu menginjakkan kaki di bandara, para TKI sudah dihadang calo dan pungli yang seolah tak henti. Belum lagi kebijakkan baru pemerintah lewat Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI), yang lagi-lagi tampak keren namanya, yang mewajibkan TKI yang baru tiba dari luar negeri untuk diantar ke daera-daeah masing-masing dengan tambahan biaya Rp. 690.000, setelah sebelumnya di negeri orang dikutip Rp. 400.000 untuk transportasi di Indonesia. Pasalnya, para TKI tidak bisa keluar dari terminal TKI bila tidak menggunakan bus agen perjalanan BNP2TKI. Semua itu dilakukan dengan alasan agar para TKI tidak lagi dihadang calo. Menurut hemat penulis, mbok ya mikir, masa iya dengan alasan itu TKI tidak boleh ikut jemputan saudara-saudaranya yang sudah datang jauh-jauh ke bandara, malah kudu musti wajib bayar tambahan ongkos untuk ikut kendaraan BNP2TKI. Mending kalo beres, kalo ternyata TKI yang tiba keder liat Jakarta, terus lupa kampung halaman, seperti banyak yang terjadi, apa ga pusing pak sopir harus keder muter-muter nyari rumah yang pemiliknya aja lupa dimana?

Kenapa juga ga solusinya; calonya aja yang diberangus; pelatihan yang intensif untuk TKI mulai dari kemampuan berbahasa hingga pelayanan sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan; kebijakan yang aktif untuk memberikan dan menuntut perlindungan terhadap tempat kerja sang TKI; peraturan yang ketat terhadap para penyalur; peraturan dan izin yang sesuai dengan koridor hukum yang melindungi eksistensi TKI; dan kebijakan lain yang efektif dalam mereduksi terjadinya neraka dunia untuk para TKI. Agar tidak ada lagi cerita pilu kehilangan, ketidakadilan, penindasan, tekanan, atau bahkan kematian yang melulu santer terdengar di telinga. Karena TKI adalah pekerjaan mulia, bukan pekerjaan durjana yang keleleran menindas rakyatnya. Memang, cara memutus lingkaran setan ini tidak semudah membalik telapak tangan. Dibutuhkan kerja keras dan sikap legowo berbagai pihak untuk bekerja sama dalam menanggulangi musibah yang selalu mencoreng nama baik bangsa. Ingat, mereka manusia, bukan setengah makhluk setengah hamba.

Bagi para perempuan di era sekarang ini tentu akan berpikir dua kali untuk menjalin hubungan laki-laki dan perempuan, apapun itu namanya, jika hanya bermodal cinta. Kata-kata yang sering terucap adalah, emang lo pikir gue kenyang makan cinta? Tanpa bermaksud beragumentasi lebih jauh dengan ungkapan tersebut, penulis hanya mencari benang merah dari pelbagai kondisi yang termaknai serupa tapi tak sama. Realistis saja, agama manapun tidak melarang umatnya untuk mencari rizki yang telah dianugrahkan. Ambil contoh agama Islam, salah satunya seperti tersurat dalam Al Qur’an, “Apabila shalat telah dilaksanakan, bertebaranlah kamu di muka bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung” (QS 62:10). Makna dari penciptaan manusia adalah agar kita, makhluk vertebrata dengan tambahan akal budi serta nikmat lain dari Tuhan, untuk beribadah kepada-Nya. Kesimpulannya, manusia memang dicitakan dengan salah satu tujuannya untuk beribadah kepada-Nya, namun manusia butuh makan dan kenyamanan lain agar dapat menikmati ibadah, untuk itu manusia secara harfiah memang harus mencari rizki agar dapat memenuhi kebutuhan fungsi ‘kemanusiaannya’ agar dapat memenuhi kewajiban dan hak beribadah dengan maksimal kepada pencipta-Nya. Lalu apa guna manusia jika sudah begitu merasa jumawa dengan menjadi penghambat sesama kawan manusia dengan menghalalkan berbagai cara.

Entah esok entah lusa entah kapan, mungkin akan banyak bermunculan gelar megah lain yang terselubung nestapa. Mengutip puisi Agus R. Sardjono, kemana pergi lumpur yang hina jika bukan keasalnya. Lha ya kita ini lumpurnya, yang lebih masyuk dengan kepentingan pribadi ketimbang peduli dengan nasib sesama. Yang pada akhirnya akan ditutup dengan, All you have to do just accept it and move on. The question is where we should have to move? Dawn to beyond or drown beneath... Anyway, if it just feels the same, then maybe we’ve already lost our faith to be a truly human being.



No comments:

Post a Comment